Kala Cinta Menggoda
Bab I Cinta Lagi, Cinta Lagi “CINTA Prameswari.” Suara dingin Sekala membuat bulu kuduk Cinta bergidik ngeri. Entah apa kesalahan Cinta kali ini, yang jelas mata Sekala memerah. “Kalau tidak bisa membuat proposal yang bagus, setidaknya nanya. Pita suara kamu masih berfungsi, kan?” tanya Sekala tajam. Deg! “M-maaf, Pak.” Buru-buru Cinta menundukkan kepalanya, menghindari tatapan Sekala yang begitu menakutkan. Matanya sudah mematas, bulir air mata menumpuk tepat di pelupuk. Padahal ia sudah mati-matian menyusun proposal itu, begadang tiga hari dua malam di kantor. Ternyata sama seperti biasanya, hasilnya jauh di bawah standar Sekala Adinata. “Balik magang lagi aja deh kalau ngga bisa dibilangin terus,” ketus Sekala. “M-maaf, Pak.” Cinta mengulangi kalimatnya dengan suara bergetar. Air mata yang susah payah ia tahan perlahan luruh. Sekuat tenaga Cinta merapatkan bibirnya agar isaknya tak terdengar sampai ke telinga atasannya. Sekala tahu Cinta menangis. Ia mengembuskan napas, menahan ras...