Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2021

Pertemuan Pertama

Gambar
Tanah masih belum kering, sama halnya dengan air mata yang terus membasahi pipiku. “Ini amplop dari Adlyn, buat kamu.” Gita menyodorkannya kepadaku. “Terima kasih, Kak.” Aku masih duduk di ruang tamu rumah Adlyn, membuka perlahan surat amplop terakhir dari Adlyn bersama Gita yang kini menemaniku. Kertas berwarna putih polos keluar dari dalam amplop, kubuka perlahan. Tulisan tangan Adlyn tercetak di sana, aku mulai membacanya perlahan. Teruntuk Tasya, yang katanya teman hidup Adlyn. Terima kasih. Terima kasih sudah menjadi teman cerita, teman bahagia, teman gabut, dan teman yang membuat Adlyn semakin kuat. Masih ingat pertemuan pertama kita? Kamu pasti lupa. “Bohong, jelas-jelas aku ingat pertemuan pertama kita di McD, waktu itu aku ga sengaja nabrak kamu,” jawabku di sela-sela isakku. Bukan, bukan di McD. Tapi di TK. Ternyata dulu kita satu TK. -fin- Masih sama dengan karakter drabble di alasan , kayaknya aku bakal nulis beberapa drabble dengan karakter Tasy...

Alasan

Gambar
“Aku sibuk,” jawabnya menolak ajakanku. Bukan kali pertama, karena ini keempat kalinya dia menolak untuk bertemu denganku. Aku mendesah pasrah. “Aku tahu kamu sibuk, tapi bisa ga sih aku sedikit jadi prioritas kamu? Kalau kayak gini mending kita udahan aja, aku capek!” keluhku berapi-api. “Oke, kalau itu memang mau kamu.” Tut. Tut. Tut. Sambungan terputus. Malam itu aku marah dan menangis sejadi-jadinya. … Satu minggu berlalu, masih tidak ada kabar darinya dan aku sibuk bergumul dengan diriku sendiri untuk tidak menghubunginya lebih dulu. “Jangan lemah, Tas. Jangan lemah! Dia yang salah, dia yang harusnya nyari aku duluan!” Aku berusaha menguatkan diri. Tak lama berselang, ponselku berbunyi. Sederet nomornya yang sudah aku hapus namun kuhapal jelas menghubungiku. Satu kali, aku abaikan. Dua kali, masih kuabaikan. Syukurin, biar dia tahu rasa. Tiga kali … “Ada apa, sih?! Bukannya kita udah putus?!” ketusku saat mengangkat telponnya. “Tasya, kan? Tas, Adly...

Jarak

Gambar
  Jarak Ketika Lara Menjadi Nyata   Aku selalu membencinya, bahkan sejak dulu. Tepatnya, saat dia memutuskan untuk melanjutkan study di luar pulau. “Vi, jarak itu cuma angka. Yang penting itu perasaan. Lagian kalau ketemu terus juga lama-lama bosen. Kalau ldr ‘kan kamu bisa fokus sama study kamu, dan aku fokus dengan study aku,” ucapnya sambil mengusap pelan rambutku. Baginya, jarak tak masalah. Sayangnya, tidak menurutku. Aku dan keluhanku menjadi satu. “Bagaimana kalau tiba-tiba pas kamu pulang … pesawatnya jatuh?” tanyaku khawatir. “Kamu ga usah mikir aneh-aneh dong,” balasnya. “Aku nanya nih.” Dia tak menjawab, hanya tersenyum. Kemarin dia mengabariku, akan segera pulang hari ini. Malang, kekhawatiranku berubah menjadi nyata. Jarak antara aku dan dia kini semakin jauh.   -the end-   Drabble; a ficlet of 100 words or less.