Postingan

Menampilkan postingan dengan label Drabble

Break

Gambar
    “AKU  mau berak.” Pesan terakhir dari Angga. Sampai saat ini, balasanku untuknya selalu centang satu. Foto profilnya menghilang dan status WhatsApp-nya tak lagi kulihat. “Tita … mau berapa lama lagi?” tanya Keisya padaku. Kalau dihitung, sudah mirip keranjang kuning 99+ bahkan sampai dapat peringatan, ‘Tidak bisa menambahkan ke keranjang’ saking seringnya Keisya menanyaiku. “Dia pergi ke toilet, Keisya.” Aku menjawab, yakin. Keisya menarik napas panjang. Kekesalannya memuncak. “Ya Tuhan Tita, ga ada orang yang pergi berak dari Januari sampai September! Itu buang hajat apa gimana konsepnya?!” Keisya menyerocos panjang. “Tahu sendiri dia lagi dalam masa pendidikan.” Aku tetap teguh pada pendirianku. Hubunganku dengan Angga sudah terlanjur lama, terhitung tiga tahun sejak awal SMA hingga dia mengabariku mau b-e-r-a-k. Menemaninya dari yang sering jadi korban razia rambut sekolah, sampai akhirnya dia memangkas seluruh rambutnya untuk mengikuti pendidikan...

DUGONG

Gambar
     [saran playlist sambil baca ]      “Jadi … maksud kamu aku gendut?” Januar terdiam. Lagi-lagi pria itu menghela napas mendengar lantunan pertanyaan dari sang kekasih mengenai fisik gadis itu. “Bagian mana dari kalimatku yang mengatakan kamu gendut?” tanya Januar lembut. Ia tahu, ia tidak boleh terpancing emosi setiap kali kekasihnya ini mengajak ribut. “Ya kamu … bilang aku mirip dugong. Dugong itu kan merepresentasikan gendut secara tersirat!” Kalila menjelaskan dengan menggebu-gebu. Pasalnya, beberapa menit lalu Januar menyebutnya seperti dugong. “Hah …” Embusan napas Januar terdengar sampai di telinga Kalila. Melalui sambungan video call , wajah lelah Januar tercetak jelas. Representasi 'dugong' di mata Januar dan Kalila bagai kutub utara dan kutub selatan; seratus delapan puluh derajat berbeda! “Dari tadi kamu ngembusin napas gitu … kamu cape ya ngadepin aku?” Lagi-lagi Kalila menuduh yang tidak-tidak pada Januar. Januar menggeleng. “Gini nih kal...

Perihal: Rasa dan Asa

Gambar
  “Tuhan ciptakan rasa untuk apa?” tanyaku sedikit melirik ke arahnya, berharap dia menyadari maksud pertanyaanku. “Tentu agar dunia ini tidak hampa. Kalau tak ada rasa, dunia akan hampa. Bukankah ini sangat mirip dengan pekerjaan kita di dapur? Kita seperti Tuhan, meracik rasa untuk makanan. Dengan begitu orang yang menerima makanan akan merasa bahagia dengan rasanya.” Ia menjelaskan, lengkap dengan analogi yang masuk akal. Aku kehabisan kata, sibuk memutar otak guna menemukan kalimat yang tepat agar maksudku tersampaikan. “Kalau begitu … kenapa Tuhan putuskan asa?” “Apakah rasa yang menurut kita sudah pas sama seperti yang dirasakan oleh customer kita?” Ia malah melontarkan pertanyaan kembali kepadaku. “Mungkin bagi kita sudah tepat, namun bisa jadi bagi mereka terlalu pekat atau hambar. Begitulah rancangan Tuhan yang kita rasakan. Tergantung bagaimana kamu menikmatinya.” “Oh, begitu.” Aku pasrah. “Pantas saja kamu ga pernah mengerti perasaanku.”   -end-

Pertemuan Pertama

Gambar
Tanah masih belum kering, sama halnya dengan air mata yang terus membasahi pipiku. “Ini amplop dari Adlyn, buat kamu.” Gita menyodorkannya kepadaku. “Terima kasih, Kak.” Aku masih duduk di ruang tamu rumah Adlyn, membuka perlahan surat amplop terakhir dari Adlyn bersama Gita yang kini menemaniku. Kertas berwarna putih polos keluar dari dalam amplop, kubuka perlahan. Tulisan tangan Adlyn tercetak di sana, aku mulai membacanya perlahan. Teruntuk Tasya, yang katanya teman hidup Adlyn. Terima kasih. Terima kasih sudah menjadi teman cerita, teman bahagia, teman gabut, dan teman yang membuat Adlyn semakin kuat. Masih ingat pertemuan pertama kita? Kamu pasti lupa. “Bohong, jelas-jelas aku ingat pertemuan pertama kita di McD, waktu itu aku ga sengaja nabrak kamu,” jawabku di sela-sela isakku. Bukan, bukan di McD. Tapi di TK. Ternyata dulu kita satu TK. -fin- Masih sama dengan karakter drabble di alasan , kayaknya aku bakal nulis beberapa drabble dengan karakter Tasy...

Alasan

Gambar
“Aku sibuk,” jawabnya menolak ajakanku. Bukan kali pertama, karena ini keempat kalinya dia menolak untuk bertemu denganku. Aku mendesah pasrah. “Aku tahu kamu sibuk, tapi bisa ga sih aku sedikit jadi prioritas kamu? Kalau kayak gini mending kita udahan aja, aku capek!” keluhku berapi-api. “Oke, kalau itu memang mau kamu.” Tut. Tut. Tut. Sambungan terputus. Malam itu aku marah dan menangis sejadi-jadinya. … Satu minggu berlalu, masih tidak ada kabar darinya dan aku sibuk bergumul dengan diriku sendiri untuk tidak menghubunginya lebih dulu. “Jangan lemah, Tas. Jangan lemah! Dia yang salah, dia yang harusnya nyari aku duluan!” Aku berusaha menguatkan diri. Tak lama berselang, ponselku berbunyi. Sederet nomornya yang sudah aku hapus namun kuhapal jelas menghubungiku. Satu kali, aku abaikan. Dua kali, masih kuabaikan. Syukurin, biar dia tahu rasa. Tiga kali … “Ada apa, sih?! Bukannya kita udah putus?!” ketusku saat mengangkat telponnya. “Tasya, kan? Tas, Adly...

Jarak

Gambar
  Jarak Ketika Lara Menjadi Nyata   Aku selalu membencinya, bahkan sejak dulu. Tepatnya, saat dia memutuskan untuk melanjutkan study di luar pulau. “Vi, jarak itu cuma angka. Yang penting itu perasaan. Lagian kalau ketemu terus juga lama-lama bosen. Kalau ldr ‘kan kamu bisa fokus sama study kamu, dan aku fokus dengan study aku,” ucapnya sambil mengusap pelan rambutku. Baginya, jarak tak masalah. Sayangnya, tidak menurutku. Aku dan keluhanku menjadi satu. “Bagaimana kalau tiba-tiba pas kamu pulang … pesawatnya jatuh?” tanyaku khawatir. “Kamu ga usah mikir aneh-aneh dong,” balasnya. “Aku nanya nih.” Dia tak menjawab, hanya tersenyum. Kemarin dia mengabariku, akan segera pulang hari ini. Malang, kekhawatiranku berubah menjadi nyata. Jarak antara aku dan dia kini semakin jauh.   -the end-   Drabble; a ficlet of 100 words or less.