Break
“AKU mau berak.”
Pesan terakhir dari Angga.
Sampai saat ini, balasanku untuknya selalu centang
satu. Foto profilnya menghilang dan status WhatsApp-nya tak lagi kulihat.
“Tita … mau berapa lama lagi?” tanya Keisya padaku. Kalau
dihitung, sudah mirip keranjang kuning 99+ bahkan sampai dapat peringatan, ‘Tidak
bisa menambahkan ke keranjang’ saking seringnya Keisya menanyaiku.
“Dia pergi ke toilet, Keisya.” Aku menjawab, yakin.
Keisya menarik napas panjang. Kekesalannya memuncak. “Ya
Tuhan Tita, ga ada orang yang pergi berak dari Januari sampai September! Itu buang hajat apa gimana konsepnya?!” Keisya menyerocos panjang.
“Tahu sendiri dia lagi dalam masa pendidikan.” Aku
tetap teguh pada pendirianku.
Hubunganku dengan Angga sudah terlanjur lama, terhitung
tiga tahun sejak awal SMA hingga dia mengabariku mau b-e-r-a-k. Menemaninya
dari yang sering jadi korban razia rambut sekolah, sampai akhirnya dia memangkas
seluruh rambutnya untuk mengikuti pendidikan.
Sementara aku?
Melanjutkan pendidikan di kota yang berbeda pasca
berjanji untuk tetap bersama sampai kami sama-sama meraih impian.
“Hah …”
Terdengar helaan pasrah dari Keisya. Kepalanya menggeleng
tak percaya dengan semua respon positifku.
“Lusa, di reuni sekolah dia pasti datang. Tanyain gimana
hubungan kalian,” ucap Keisya tegas.
Aku mengangguk.
Hingga reuni yang dimaksud Keisya pun tiba.
Aku sejak tadi berdiri menanti kedatangan Angga.
“Eh, lihat deh Angga dateng.” Samar-samar terdengar
bisikan dari sekitar.
Aku celingak-celinguk mencari sumber.
“Bukannya Angga sama Tita ya dulu? Itu yang digandeng dia siapa?”
“Lho … Keisya?”
- end -
ternyataa....🥲
BalasHapus