Catatan Meresahkan: Jomblo Kepala Dua
CATATAN MERESAHKAN JOMBLO KEPALA DUA
STATUS
20.
Sudah tak ada lagi akhiran –teen saat perkenalan usia
dalam bahasa Inggris. Entah itu thirteen,
fourteen, fifteen, …, hingga nineteen.
Time flies
so fast.
Rasanya baru kemarin menikmati ayam gulai bercampur kentang,
mie ala Bangka kebanggaan Mama, dan tak lupa telur rebus yang kalau sempat
telurnya direbus merah untuk merayakan ulang tahun ke-11 diiringi pertanyaan,
“Mau beli hape yang mana?”
Inget banget kali pertama punya hape yang bisa dipake
buat internetan, lengkap dengan stik ala PS versi lite dari m*to. Hape yang
bikin aku kenalan sama ‘insomnia’ hanya untuk membaca cerita horror di malam
Minggu kelabu. Maklumlah, dulu ga kenal sama yang namanya Malam Minggu Miko,
jadi tiap malam Minggu rasanya kayak uji nyali malam Jumat buat baca cerita
horror di facebook. Sampe pernah ada
inisiatif buat ngehapal ayat kursi, kali-kali ketemu setan bisa coba praktek
bacain.
Kalau sekarang …
Udah memasuki fase di mana setiap pulang kampung
ditanyain,
“Venti … udah punya pacar belum?”
Bukan, bukan pertanyaan dari para bujang di sana yang
lagi mencari peluang, melainkan dari Mama yang ga bisa berhenti rempong dengan
urusan percintaan anak sulungnya ini.
Pada akhirnya, dengan wajah melas, aku cuma bisa
jawab, “Ya ampun, Ma. Ke kampus aja kayak gembel aku, mana bisa cowok nyantol
ke aku.”
Tapi ini beneran sih, ga boongan yang ingin merendah
untuk meroket. Kalau inget style-style masa awal kuliah, rasanya malu sampai ke
ubun-ubun. Heran kenapa duit ga dialokasikan dengan baik untuk fashion, tapi malah membabi-buta habis
untuk menimbun lemak di sela-sela kulit.
Hadeeeh … itu penyesalan. Kalau di awal, ya
pendaftaran.
Balik lagi ke topik. Pernah nonton film ‘Imperfect’
karya Ernest Prakasa yang dibintangi oleh Jessica Mila dan Reza Rahardian, ga? Tagline-nya;
“Karier, cinta dan timbangan.”
Tiga hal itu udah merepresentasikan banget keresahan
yang semakin terasa resah saat kamu memasuki kepala dua. Karier yang ga tau mau
dibawa ke mana, cinta yang ga kunjung datang, dan terakhir … timbangan entah
kenapa doyan lari ke kanan.
Kalau saat ini usia kamu belasan, selamat. Kamu membaca
wejangan yang tepat sebelum kamu menginjak kepala dua karena di sini aku akan
menceritakan segala keresahanku yang semoga bisa digunakan sebagai arahan agar
kamu bisa mewanti-wanti saat usiamu berada di kepala dua nanti.
Well … sebenarnya masih belum kepala dua yang benar-benar
tua. Baru dua puluh tahun lewat empat bulan enam hari saat aku menyelesaikan
tulisanku. Semoga saja tulisan ini dibaca lebih awal olehmu yang masih berusia –teen,
meskipun paling banter dua puluh tahun kurang sehari. Kamu masih punya 24 jam
alias sehari untuk menyelesaikan pr-prmu di usia belasan.
Oh iya, dari tiga hal yang menjadi tagline film Imperfect, kamu tahu mana yang paling meresahkan?
Yap, point ‘cinta’!
Aku ga pernah merasa ga normal sampai pada suatu
senja, di atas motor seusai melewati pertigaan menuju Purnama—apa Perdana? Au ah
gelap, aku ga hapal jalanan kota Pontianak. Tepatnya, setelah aku berdecak,
“Gila, parah! Itu cowok manis banget!”
Benar sekali.
Saat itu aku sedang mengagumi abang-abang yang ga
sengaja aku lihat di pertigaan. Rambutnya kayak Dora, tapi pas banget dengan
wajahnya. Vibes ala-ala Jeonghan anggota
boyband Seventeen gitu, lho. Kamu tahu
apa reaksi temanku, Nadia yang cantik dan baik hati, ramah, tidak sombong juga
rajin memboncengi aku ke tempat magang?
“Puji Tuhan … akhirnya dengerin Venti muji cowok!”
ucapnya dengan nada tanpa dosa, mensyukuri apa yang baru saja aku perbuat,
seolah-olah suatu mukjizat baginya mendengar seorang Venti memuji cowok.
Di saat bersamaan, aku ternganga, “Hah?” tanyaku masih
ga paham dengan kata-katanya.
“Kukira kau ga normal, Ven!” balasnya lagi dengan nada
keras. Tahulah, butuh volume tinggi untuk bisa ngobrol di atas motor yang
sedang melaju di jalanan—FYI, di sini
hal yang lumrah untuk berbicara aku-kau, karena kalau aku-kamu biasanya
digunakan oleh orang-orang berstatus ‘spesial’.
Mataku melotot mendengar pernyataan Nadia. “Jadi
selama ini kau anggap aku ga normal?” Aku, masih berusaha memperjelas maksud
pernyataannya barusan.
Lagi-lagi, entah polos atau memang tak berdosa, Nadia
mengangguk. “Iya, soalnya selama ini aku ga pernah dengar kau muji cowok depan
aku.”
“Jadi … selama ini kau anggap BTS apaan? Bukan cowok?”
keluhku. “Ranz Kyle Viniel Evidente Ongsee? Owy? Lee Jun Ki?” Aku menyebutkan
beberapa nama idola cowok kesukaanku.
“Ya pokoknya gitu.”
Singkat, padat, dan jelas.
Nyeseknya sampai ke ubun-ubun, dan baru sejak itu aku
merasa menjadi jomblo adalah status yang meresahkan.
Usia dua puluh dan masih jomblo, entah karena alasan
masih sibuk dengan dunia per-fangirling-an
atau karena nyaman sendiri (kalau di Korea Selatan namanya Honjok, itu lho budaya yang lagi ngetren di kalangan anak muda,
menikmati hidup sendiri dan ogah menikah) rasanya seperti sebuah kesalahan di
Indonesia.
Sejak itu aku juga mulai berpikir … selain temanku,
Nadia, kira-kira siapa lagi orang di luar sana yang merasa aneh dengan kejombloan
20 tahunku ini? (Kuharap Mamaku ga berpikir hal yang sama, mengingat pertanyaan
tentang statusku terus dilayangkan saat aku pulang kampung).
Setidaknya aku perlu ruang untuk klarifikasi, aku 100%
masih suka cowok dan ga kepikiran buat pindah haluan. Benar-benar masih
mengagumi makhluk Tuhan, keturunan Adam. Bahkan sejak dulu sebenarnya ada
banyak moment di mana aku berdecak kagum kalau ngelihat cowok yang ‘eyecatching’ (istilah yang kukenal dari
L) dan aku terlatih jadi fangirl sejak
dini.
Dimulai dari Afgan yang manis dengan suara lembutnya
membawakan lagu Sadis sebagai OST drama Bukan Mawar Tapi Melati, Fachri
Muhammad pemeran si Entong dan Syahravi temennya Memet dalam serial yang sama,
Farrel cinta pertamanya Rachel yang selalu bikin greget diperankan oleh Irshadi
Bagas, Bastian pas main di film 5 Elang sampai dia debut di Coboy Junior, kemudian
mulai mengidolakan Bisma Sm*sh, Arthur Stevano Anapaku member S4, dan lain-lain
yang saking banyaknya ga bisa disebut.
Satu paragraf benar-benar ga cukup untuk menuliskan
jejak fangirling yang kulalui sejak
masih kecil. Karena sebelum suka dengan BTS, aku pernah menjadi fangirl Chicser (kalo kamu kenal Ranz
Kyle abangnya Niana, dia member boyband Chicser bersama lima teman lainnya:
Owy, Oliver, Cav, Biboy dan Ully), Greyson Chance (saat Sunshine and City Light masih tenar dan dia sering disebut sebagai
kembarannya Justin Bieber bersama Steven William kalo versi Indonesianya), Gimme5
(mungkin ga banyak yang tahu, ini boyband asal Filipina yang terdiri dari 5
orang; Nash, Brace, Grae, Joaquin, dan yang paling tenar di Indonesia saat itu
John Emmanuel Bermundo).
Ga lupa Jirayu Laongmanee dan Peach Pachara kala
SuckSeed dan The Billionaire sedang naik daun sampai-sampai aku jatuh cinta
sama rumput laut Tae Kae Noi yang mahal harganya karena para petani rumput laut
harus melawan hiu terlebih dahulu untuk bisa membawa rumput laut ke daratan—pasti
inget ‘kan dialog berisi teknik marketing ala pamannya Top saat jualan rumput
laut?
… dan masih banyak lagi. Intinya, aku benar-benar
masih suka sama makhluk Tuhan berjenis kelamin laki-laki, kok! Jadi ga usah
khawatir kalau aku miring. Udah ah, segitu aja sharing tentang dunia fangirling-nya. Balik lagi ke topik
awal.
Bagiku, usia 20 merupakan tahun-tahun yang berat.
Aku memasuki fase dewasa, tahun-tahun yang diimpikan
olehku saat masih SD. Dengan penuh idealis, aku selalu tersenyum setiap kali
berkata,
“Pengen cepat-cepat dewasa! Pengen bisa jadi ini, itu,
dan lainnya!”
Tapi saat aku menyadari aku sudah hidup selama dua
puluh tahun, di situ aku mulai merasa kegalauan tingkat tinggi meski belum bisa
dibilang memasuki quarter life crisis
karena quarter sendiri berarti 25. Mungkin
ini fase awal menuju quarter life crisis
menurutku, usia di mana mentalku mulai terguncang karena aku tak kunjung
menemukan jati diri. Aku masih sering menggalau bukan karena mikirin doi, tapi
karena ketidakpastian masa depan. Padahal di Alkitab tertulis,
“Sebab itu
janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya
sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.” (Mat.6:34)
Lebay memang aku. Banyak mikir dan galaunya daripada
mensyukuri sambil menjalani. Semoga kamu yang lagi membaca ini ga mengikuti
kebiasaan burukku ini, karena jujur, hanya bikin pusing sendiri. Lebih baik
kayak tagline-nya N*ke,
“Just do it!”
Simple dan berorientasi kerja. Perkara hasil ya
belakangan. Semoga kamu bisa dapat pesan yang kumaksud, ya.
Balik lagi di sini. Berdasarkan hasil Focus Group Discussion (ghibah) yang
kulakukan bersama beberapa teman kostku di balkon kostan, usia 20-an ke atas
merupakan usia di mana kamu berpacaran bukan untuk main-main alias sudah ada
tujuan untuk menikah.
Salah seorang temanku mengatakan bahwa ia mulai
memilah laki-laki dalam berpacaran. Ia akan bertanya apakah laki-laki itu mau
menikahinya. Kalau tidak, tanpa ragu ia akan menolaknya.
… dan sebagai jomblo 20 tahun di sana, aku speechless. Ternyata hubungan percintaan
di usia 20-an rumit. Kalau kamu melewati masa berpacaran di usia belasan, itu
artinya kamu melewati masa-masa ‘cinta monyet’ yang ga bisa kamu ulang di usia
20 nanti.
Berat rasanya untuk ‘bermain-main’ saat usiamu sudah
20. Ibarat ponsel, sudah memasuki mode serius. Seperti notifikasi,
“Fitur jangan main-main dihidupkan. Orang yang datang
tak untuk menetap ditolak.”
Begitu kira-kira bayangannya.
Ga ada tombol ctrl+z yang bisa nge-undo langkah kita dan kita harus bergerak maju.
Catat, jarum jam ga pernah bergerak ke kiri, dia selalu ke kanan dan aku
berharap jarum timbanganku bisa ke kiri.
Kalau kamu masih usia belasan dan belum pernah berpacaran,
pikir-pikir lagi deh.
Menjadi jomblo di usia 20 tahun itu ga enak, tapi
pacaran juga bukan suatu hal yang aku rekomendasikan mengingat orang-orang yang
berpacaran bukan orang sembarangan. Mereka adalah orang-orang yang siap
mengalami patah hati kalau-kalau bahagia yang dirasakan oleh mereka semu
semata.
Ga ada salahnya untuk mulai mengenal lawan jenis,
bukan cuma mengenal idola sampai ke akar-akarnya. Tapi kalau kamu belum berani take a risk patah hati saat hubunganmu
gagal, jangan sekali-kali kamu mencoba untuk pacaran. Fatal untuk kesehatan mental, parahnya bisa menyebabkan trauma.
Nikmati masa mudamu dengan caramu sendiri. Mau
cari pasangan, boleh dibuka seleksi dari hari ini supaya kamu ga menggalau saat
usia 20-an. Menikmati kesendirian … ya gapapa. Budaya Honjok udah mendunia, ‘kok.
… asal kamu yakin kalau kamu menikmati kesendirianmu,
bukan terkungkung dalam rasa kesepian. (end)
Note:
Targetku hari ini menulis 700-an kata dengan highlight cerita di atas motor, tapi
kebablasan sampai kebawa sharing hasil Focus Group Discussion di
balkon kostan. Semoga tulisan berisi curcolan ini bermanfaat untukmu. Kalau ga
ada manfaatnya, semoga kamu terhibur aja deh.
Oh iya, jangan sungkan untuk nge-spill topik untuk kubahas ke depannya. Mungkin selanjutnya kita
akan bercerita tentang budaya Honjok,
sampai bertemu pada Senin berikutnya, di sela-sela kegabutanku!
Regards,
Yang masih menikmati kesendirian bukan kesepian,
Ven

selain nadia, psti ada yg kira ece nda normal jga
BalasHapusTiduuur, Pikachuuuuu )): kakakmu ini benar-benar normal ...
HapusVenti memang tidak normal, menggalau karena tidak punya pacar, dikenalin sama cowok malah ilfeel
HapusKerennn ih🔥
BalasHapusTerima kasih kakak ❤✨
Hapus