Jarak

 


Jarak

Ketika Lara Menjadi Nyata

 

Aku selalu membencinya, bahkan sejak dulu. Tepatnya, saat dia memutuskan untuk melanjutkan study di luar pulau.

“Vi, jarak itu cuma angka. Yang penting itu perasaan. Lagian kalau ketemu terus juga lama-lama bosen. Kalau ldr ‘kan kamu bisa fokus sama study kamu, dan aku fokus dengan study aku,” ucapnya sambil mengusap pelan rambutku.

Baginya, jarak tak masalah.

Sayangnya, tidak menurutku.

Aku dan keluhanku menjadi satu.

“Bagaimana kalau tiba-tiba pas kamu pulang … pesawatnya jatuh?” tanyaku khawatir.

“Kamu ga usah mikir aneh-aneh dong,” balasnya.

“Aku nanya nih.”

Dia tak menjawab, hanya tersenyum.

Kemarin dia mengabariku, akan segera pulang hari ini. Malang, kekhawatiranku berubah menjadi nyata. Jarak antara aku dan dia kini semakin jauh.

 

-the end-

 

Drabble; a ficlet of 100 words or less.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Meresahkan: Jomblo Kepala Dua

Break

DUGONG