Kala Cinta Menggoda
Bab I
Cinta Lagi, Cinta Lagi
Suara dingin Sekala membuat bulu kuduk Cinta bergidik ngeri. Entah apa kesalahan Cinta kali ini, yang jelas mata Sekala memerah.
“Kalau tidak bisa membuat proposal yang bagus, setidaknya nanya. Pita suara kamu masih berfungsi, kan?” tanya Sekala tajam.
Deg!
“M-maaf, Pak.” Buru-buru Cinta menundukkan kepalanya, menghindari tatapan Sekala yang begitu menakutkan. Matanya sudah mematas, bulir air mata menumpuk tepat di pelupuk.
Padahal ia sudah mati-matian menyusun proposal itu, begadang tiga hari dua malam di kantor. Ternyata sama seperti biasanya, hasilnya jauh di bawah standar Sekala Adinata.
“Balik magang lagi aja deh kalau ngga bisa dibilangin terus,” ketus Sekala.
“M-maaf, Pak.” Cinta mengulangi kalimatnya dengan suara bergetar.
Air mata yang susah payah ia tahan perlahan luruh. Sekuat tenaga Cinta merapatkan bibirnya agar isaknya tak terdengar sampai ke telinga atasannya.
Sekala tahu Cinta menangis. Ia mengembuskan napas, menahan rasa kesal menumpuk di dada.
“Keluarlah dan segera perbaiki. Pastikan kamu memberikan proposal yang layak Senin pagi,” tegas Sekala mengembalikan proposal itu pada Cinta.
“B-baik Pak.”
Cinta segera menjauh dari hadapan Sekala. Selain menyelamatkan kondisi mentalnya, ia perlu menenangkan diri terlebih dahulu sebelum melanjutkan pekerjaannya. Oleh karena itu, Cinta memilih atap gedung sebagai tempat pelariannya.
“Huft …”
Cinta akhirnya bisa melepaskan sisa-sisa udara dari ruangan Sekala dengan lega. Berada di ruangan yang sama dengan Sekala selalu membuat dadanya sesak, Cinta tak bisa bernapas normal.
Selagi Cinta menikmati waktunya di atap gedung, Damian tahu-tahu berada tepat di hadapan Sekala.
“Kali ini … apa lagi?” tanya Damian yang sadar akan raut kesal di wajah Sekala.
“Apalagi kalau bukan si cengeng,” sahut Sekala kesar. “Proposalnya jelek banget, ditegur dikit malah nangis.”
Damian meringis mendengar ucapan tanpa hati dari Sekala. Ia menggelengkan kepalanya.
“Dia baru aja lolos dari masa probation-nya, lho. Elo ga ada inisiatif buat kasih selamat, gitu? Jarang banget ada yang kuat ngisi posisi asisten kamu.” Damian mengingatkan.
Meski baru menjabat selama tujuh bulan sebagai manajer, Sekala sudah menuai prestasi sebagai ‘mimpi buruk’ bagi calon asistennya. Sebelum Cinta, sudah ada tiga kandidat yang bahkan tak mampu bertahan sampai satu bulan.
Sebagai saksi hidup sekaligus sahabat baik Sekala, Damian hanya bisa menggeleng setiap melihat ekspresi satu per satu asisten Sekala. Ada yang menangis bombay usai keluar dari ruangan Sekala, ada juga yang merobek semua kertas di tangannya pasca mengundurkan diri. Tragisnya, bahkan sampai ada yang mengacungkan dua jari tengah ke pintu ruangan Sekala.
“Gue heran, apa kerja tim HR sampai ga bisa rekrut orang yang bener-bener bisa kerja.” Sekala menggerutu. “Bukan salah gue kalau mereka ga bisa kerja dan sebagai atasan gue punya hak untuk menegur mereka.”
“Bukannya tim gue ga bisa kerja, Sekala. Elo aja yang cerewet kayak nenek-nenek” tandas Damian, tidak terima divisinya disalahkan oleh Sekala. “Status jomblo awet bener dah, giliran asisten gonta-ganti mulu.”
Ejekan Damian berhasil membuat Sekala melotot tak senang. “Ya ngga usah bawa-bawa jomblo juga, pe’a!” Sekala mendengkus kesal. “Mending loe hibur aja si Cinta, kalau sampai dia dipecat kan elo yang repot.”
“Hadeeeh … kalo udah kayak gini aja baru lempar ke gue.”
Damian melengos dari ruangan menuju atap. Saat-saat begini, ia tahu benar Cinta pasti berada di atap guna menenangkan diri.
Langkah Damian terhenti kala melihat punggung Cinta naik-turun. Bukan waktu yang tepat baginya untuk menghampiri Cinta, perempuan itu pasti tak ingin dilihat olehnya saat menangis begini.
Tidak untuk saat ini.
Damian memutar tubuhnya dan menutup pintu perlahan. Guna memberi waktu tenang bagi Cinta, ia duduk di anak tangga agar tak ada yang naik ke atap.
…
“Lho … Pak Damian?”
Cinta yang baru saja membuka pintu ke anak tangga tanpa sengaja melihat Damian terduduk di anak tangga.
“Cinta? Kupikir ga ada orang di atap.” Damian berbohong, menyembunyikan fakta dirinya sudah duduk di sana selama hampir dua puluh menit. “Kamu ngga makan? Sekarang jam istirahat, lho.”
“Ngga, masih kenyang, Pak.” Kenyang dimarahin Sekala, maksudnya.
“Ah, sayang banget. Padahal aku punya voucher makan sushi di dekat sini, lho.”
“Sushi?” Mata Cinta mendadak berbinar mendengar ucapan Damian.
“Jadi … mau makan bareng ngga sekarang?”
“Mau, Pak!”
Tanpa penolakan, Cinta mengangguk setuju. Tanpa disadari oleh Cinta, Damian tersenyum tipis.
…
Akhir pekan kali ini dihabiskan oleh Sekala untuk kembali ke rumah orang tuanya. Niatnya ingin menghindari ajakan Damian, tapi entah bagaimana lelaki itu bisa muncul tepat sebelum Sekala tiba.
“Tante tuh kadang heran, anak Tante sebenarnya kamu atau Sekala? Susah banget dia buat ngunjungin Tante,” cerocos Ira, perempuan paruh baya yang cantiknya masih belum mampu dipudarkan oleh usia.
Damian tertawa mendengar ucapan Ira. Lima belas tahun menjadi teman Sekala bukan waktu yang singkat, tidak heran kalau dirinya–meski tak tercantum di KK–sudah seperti putra bagi Ira.
“Mama kan tahu kalau Sekala itu sibuk banget. Udah kerjaan banyak banget, asisten juga ga lincah. Harus disuapin terus!” keluh Sekala. Disambutnya piring yang disodorkan oleh Ira, satu per satu masakan sang Ibu disusun olehnya dan Damian ke atas meja.
“Iya, sibuk banget. Sampai lupa kalau usianya udah ga lagi muda,” sindir Ira. “Mama tuh gapapa kalau kamu ga sempet ngunjungin Mama, Damian lebih sering datang buat ngobrol bareng Mama. Tapi yanng Mama heran … kok kamu dateng ke sini masih sendiri aja?”
Sekala menggeleng. Ia tahu jelas maksud sang Ibu, berharap dirinya membawa calon menantu ke rumah.
“Sekala ga ada waktu buat kenalan sama perempuan, Ma.” Sekala terlihat terganggu dengan topik yang dibahas oleh sang Ibu.
“Makanya, karena kamu ga ada waktu jadi Mama yang turun tangan deh untuk nyariin kamu jodoh.” Ira, begitu entengnya menjawab.
Kedua mata Sekala melotot seketika mendengar ucapan Ira. “Apa maksud Mama?” tanya Sekala kebingungan.
“Jam dua belas nanti temen Mama mau main sama putrinya. Kamu kenalan gih, kali aja cocok.” Ira menjelaskan.
“Kayaknya … ga lama lagi bakal ada janur kuning melengkung nih, Tante?” goda Damian yang merasa senang melihat wajah terkejut Sekala. “Pantes aja hari ini Tante masak banyak banget.”
“Iya dong, siapa tahu hari ini Tante dapat calon mantu,” sahut Ira riang.
“Mama apa-apaan sih!” Sekala mengelak tak terima, tapi Ira sama sekali tak peduli.
Wajah Sekala semakin memerah kesal, Damian tertawa puas karenanya. Sepertinya segala gundah gulana Damian dalam mencarikan Sekala asisten dibayar tuntas oleh wajah semerah tomat milik Sekala hari ini.
Ting! Tong!
“Kayaknya mereka udah sampai, deh. Tante bukain mereka pintu dulu, Damian taruh buahnya ke meja dan Sekala tata piringnya!” perintah Ira.
Ia buru-buru berjalan menuju pintu, menyambut sahabatnya yang sudah lama tak ditemui olehnya.
“Jeng Lara!” Ira langsung memeluk perempuan di hadapannya dengan hangat. “Udah lama banget kita ga ketemu!”
“Iya Jeng … makin cantik aja, rahasianya apa?” puji Lara pada Ira.
Samar-samar keriput terbentuk di wajah Ira kala ia tertawa karena pujian Lara. “Ah, Jeng bisa aja. Ini anak gadis Jeng, ya? Si Riri?”
“Iya, ini putriku si Riri.” Lara mengangguk.
Ira menatap anak gadis Lara seksama. “Cantik banget! Yuk, kita masuk dulu!” ajak Ira, tak ingin basa-basi terlalu lama di depan rumah.
Lara dan putrinya berjalan masuk mengikuti langkah riang milik Ira.
“Aku tuh baru aja selesai masak sama anak lanangku. Kita langsung ke meja makan aja kali, ya? Biar ngobrolnya sambil makan?” tawar Ira.
“Anak lanang Jeng bisa masak?” tanya Lara kagum.
“Masak apanya, beresin piring doang dia bisanya.” Ira menyahut. “Ini nih anak lanangku, Sekala. Kalau ini temennya, udah kayak anakku sendiri … Damian!”
Sekala yang malas menoleh hanya mengangguk kecil, sementara Damian datang membawa buah dari dapur terkejut menyadari sosok hawa di sisi Lara.
“Lho … Cinta?”
-to be continued-
.jpg)
Komentar
Posting Komentar