Perihal: Rasa dan Asa
“Tuhan ciptakan rasa untuk
apa?” tanyaku sedikit melirik ke arahnya, berharap dia menyadari maksud
pertanyaanku.
“Tentu agar dunia ini tidak
hampa. Kalau tak ada rasa, dunia akan hampa. Bukankah ini sangat mirip dengan
pekerjaan kita di dapur? Kita seperti Tuhan, meracik rasa untuk makanan. Dengan
begitu orang yang menerima makanan akan merasa bahagia dengan rasanya.”
Ia menjelaskan, lengkap
dengan analogi yang masuk akal. Aku kehabisan kata, sibuk memutar otak guna
menemukan kalimat yang tepat agar maksudku tersampaikan.
“Kalau begitu … kenapa Tuhan
putuskan asa?”
“Apakah rasa yang menurut
kita sudah pas sama seperti yang dirasakan oleh customer kita?” Ia malah
melontarkan pertanyaan kembali kepadaku. “Mungkin bagi kita sudah tepat, namun
bisa jadi bagi mereka terlalu pekat atau hambar. Begitulah rancangan Tuhan yang
kita rasakan. Tergantung bagaimana kamu menikmatinya.”
“Oh, begitu.” Aku pasrah. “Pantas
saja kamu ga pernah mengerti perasaanku.”
-end-
Kukira sesat ternyata sad��
BalasHapus