[Oneshot] Saturda(t)e With You
Saturda(t)e With You
[Playlist to go: Conan Gray-Astronomy]
-here we go-
Friday, 16:45.
“Tan, mau nonton ga?” tanya
Dania pada saudari kembarnya yang sedang berusaha menyelesaikan puzzle sudoku
sejak enam menit yang lalu.
“Gratis?” Tanpa melirik,
Tania menyahut.
Dania mengangguk, meski itu
sia-sia karena tidak dilirik oleh Tania. “Iya, gratis. katanya si Aan mau nobar
Ardan film horror yang baru itu … tapi si Aan-nya sibuk, jadi dia nawarin tiket
punya dia,” terang Dania.
“Kamu ga pergi?” Giliran Tania
balik bertanya pada Dania.
“Ngga, kan besok jadwal
latihan nari yang tertunda. Lupa?”
“Ya mana aku inget, bukan
jadwalku juga.” Tania mengendikkan bahunya santai. “Tapi … berhubung aku orangnya
ga suka mubazir, aku keep deh tawaran barusan.”.
“Oke, aku kabari Aan. Besok
malam nontonnya jam tujuh, bisa ya?”
“Bisa.”
Kini Dania sibuk mengetik di
layar ponselnya, membalas pesan Aan. Sedangkan Tania, ia kembali berusaha memecahkan puzzle sudokunya. Perlahan,
sudut bibir Tania terangkat ke atas.
…
“Gimana An, aman?”
Di hadapan Aan, berdiri
seorang anak laki-laki yang tak sabar menunggu kabar dari Aan. Sudah kali
ketiga ia bertanya hal yang sama pada Aan dalam kurung waktu dua menit, membuat
Aan kesal dibuatnya.
“Sabar dulu, napa?” ketus
Aan. “Ini lagi nunggu balesan si Dania.”
“Iya, iya. Ini aku sabar
pake banget. Kamu ga mau top up diamond?” tawar Ardan kesekian kali, bukti
bahwa keduanya sedang melakukan transaksi sogok-menyogok guna melancarkan PDKT
Ardan.
“Ya mau, tapi ini si Dania
masih mengetik,” cecar Aan.
Ardan tak menyahut. Saat ini
jantungnya memompa darah dengan cepat hingga terdengar suara,
Deg! Deg! Deg!
Begitu keras. Ardan memegang
dadanya, berharap Aan tidak mendengar degup jantungnya yang begitu keras karena
menunggu jawaban dari Tania.
‘Ok, besok malam ya.’
“Oke katanya, Dan!” pekik
Aan kesenangan.
“Serius?!” Ardan membulatkan
matanya, tak percaya dengan ucapan Aan.
Aan mengangguk. “Iya! Dia bilang,
‘oke, besok malam ya.’ Gitu. Diamond jangan lupa di-top up.” Aan kembali
mengingatkan nominal transaksi yang dijanjikan oleh Ardan.
Ardan memutar kedua bola
matanya malas. “Aku ngga lupa kali. Nih, udah langsung aku top up.” Ardan
menyodorkan ponselnya, memperlihatkan bukti transaksi pembelian diamond untuk
akun Aan.
“Okay! Senang berbisnis
dengan Anda!”
Seolah-olah resmi, Aan
mengulurkan tangannya dan disambut oleh Ardan dengan senyum gemilang.
“Senang berbisnis dengan
Anda juga. Sampai bertemu di lain waktu.”
“Good luck bro, ga sabar deh
dapat pajak jadian!” pesan Aan.
“Yee … asem!” umpat Ardan.
Sebelum Ardan melayangkan
tangannya ke bahu Aan, Aan buru-buru beranjak dari kursi menjauhi Ardan.
“Dah, Aan yang ganteng pergi
dulu! Mau lanjut main!” pamit Aan tanpa menoleh ke belakang.
“One step closer,” gumam
Ardan sembari mendaratkan bokongnya ke kursi bekas Aan duduk. Ia kembali
memegang dadanya, merasakan degupan jantung yang begitu keras. “Aih, ini kursi
panas amat!”
…
Saturday, 15:55.
“Daaan!” teriak Tania. Tanpa
menunggu respon dari Dania, ia menerobos masuk kamar.
“Apaan sih teriak-teriak,”
tegur Dania yang sedang bersiap-siap untuk berangkat pergi.
“Aku pinjem dress, boleh?”
Tania bertanya dengan kedua mata berbinar cerah.
Dania menggeleng melihat
kelakuan saudarinya. “Ambil aja, lagian nonton doang ngapain sih?”
“Siapa tau ketemu jodoh di
bioskop?” sahut Tania. Ia tidak mempedulikan tatapan horror Dania dan langsung
membuka lemari baju Dania, memilh dress yang akan dipinjamnya.
Tania menggeleng. “Halu
jangan ketinggian, kalo jatuh ntar sakit.”
“Kata Bung Karno bermimpilah
setinggi-tingginya maka engkau akan jatuh di antara bintang-bintang.”
“Apa lo kata deh. Duluan ya.”
Dania beranjak keluar dari kamar.
…
Saturday, 17:58.
Celana chinos berwarna
abu-abu dan kemeja kotak-kotak dengan dalaman kaos biru dongker menjadi pilihan
Ardan untuk bertemu dengan pujaan hatinya. Tidak tanggung-tanggung, ia bahkan
menyemprotkan Bvlgari Aqua Marine tanpa rasa sayang sebelum meninggalkan
kamarnya. Padahal ia membelinya dengan perjuangan.
“Hahh … masih ada tiga puluh
tujuh menit lagi, deg-degan parah!” Ardan bergumam kecil. Sejak tadi ia tidak
berhenti melirik arloji di pergelangan tangannya sembari menimbang apakah ia
perlu menghubungi Dania saat itu juga.
“Harusnya aku jemput dia
tadi!” Ia menepuk jidatnya. Saking groginya, Ardan lupa untuk menjemput Dania
dan malah langsung tancap gas menuju mall tempat ia dan Dania akan menonton
bioskop.
Dari arah belakang, Tania
tampak ngos-ngosan. Sedari tadi ia berlari mencari keberadaan Ardan. Begitu ia
mendapati sosok Ardan tak jauh di depannya, ia tersenyum.
“Voila, ketemu!” Tania berseru senang. Ia
buru-buru menghampiri Ardan yang membelakangi dirinya. “Ardan!”
Suara familiar memanggil
dirinya, membuat Ardan menoleh seketika. “Dan—lho, Tania?” Ardan mengerutkan
keningnya, keheranan mendapati sosok Tania yang menghampirinya.
“Katanya Aan ga jadi nonton
dan Dania lagi latihan nari, jadi aku yang pergi. Sayang ‘kan kalo tiketnya
mubazir?” Tania menjelaskan dengan santai.
“O-oh gitu? Aku kaget,
soalnya si Aan bilangnya Dania yang pergi.” Gurat kecewa tampak di wajah Ardan,
namun sebisa mungkin ia tersenyum mendapati kehadiran Tania.
Tania mengendikkan bahunya. “Mungkin
Dania lupa bilang ke Aan kalo aku yang gantiin dia. Btw, udah jam berapa? Filmnya
udah main, belum?”
“Belum.” Ardan menggeleng. “Masih
tiga puluh menit lagi.”
“Mau keliling dulu?” tawar
Tania. “Ga enak kalau cuma berdiri aja. Kebetulan saldo kartu aku masih ada
buat main di wahana.”
“Hmm … tar kebablasan main
lupa waktu deh. Nanti pas abis nonton aja baru ke wahana, gimana?” tolak Ardan.
Tania tampak berpikir
sejenak. “Benar juga, oke deh.”
…
Seperti yang telah dijanjikan oleh Ardan, seusai menonton film, keduanya pergi menuju pusat permainan. Beberapa jenis permainan sudah mereka jarah, mulai dari DDR, street basketball, time crisis, hingga yang terakhir mencapit boneka.
Mungkin tidak sah kalau pengunjung berpasangan tidak megunjungi mesin capit, tempat di mana kaum adam berusaha unjuk kebolehan untuk mendapatkan boneka. Malangnya Ardan bukan laki-laki yang handal bermain mesin capit. Merasa kesal, Ardan berusaha untuk mendapatkan boneka dan Tania tertawa melihat kelakuan Ardan.
“Buat kamu.” Setelah sekian lama, akhirnya ia berhasil mencapit satu boneka. Ardan
memberikan boneka beruang kecil yang baru saja didapatnya kepada Tania.
“Beneran?” Tania memastikan.
Ardan mengangguk. “Ya
beneran, masa boongan. Kan ga lucu kalo aku bawa ini boneka pulang.”
“Tapi kamu sampe lima belas
kali lho baru dapat ini boneka.” Tania mengingatkan.
Ardan menutup wajahnya yang
memerah karena malu. “Ga usah disebut juga kali,” ucapnya. Bisa-bisanya ia
kesal dengan mesin capit yang tak kunjung dapat sampai-sampai kebablasan. Ardan
baru tahu bermain mesin capit bisa lebih menyebalkan daripada menyelesaikan
soal Kalkulus.
“Makasih.” Tania berkata
tulus saat mengambil boneka tersebut dari tangan Ardan. Ia memalingkan
wajahnya, tak ingin Ardan melihat raut wajahnya yang perlahan memerah.
“Mau makan?” tawar Ardan.
“Boleh.”
Kini mereka beriringan
menuju restaurant makanan cepat saji yang ada di mall. Tania berjalan lebih
lambat dari Ardan. Ia ingin memeriksa degup jantungnya yang semakin menggila
sejak tadi.
“Ini … kesempatan,” bisiknya
pada dirinya sendiri. Tentu saja, kesempatan untuk mengutarakan perasaan. Sudah bukan zamannya perempuan menunggu. Bagi Tania, kalau ada kesempatan, kenapa tidak?
“Cepetan Tan, nanti keburu
diambil orang kursinya.” Ardan memanggil Tania begitu ia menyadari bahwa Tania
telah jauh tertinggal olehnya.
Tania tersenyum. “Iya, iya. Ini
udah jalan!” teriak Tania. Kini ia merasa sangat yakin hari ini. “It’s d-day!”
Ia kembali berbisik.
…
“Ardan,” panggil Tania
dengan wajah serius setelah ia menyeka bibirnya dengan tissue. Ia sudah selesai
makan, begitu pula dengan Ardan yang sejak tadi memainkan ponsel di tangannya. “Aku
mau ngomong serius.”
“Apaan?” Ardan menyahut
tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel.
“Kamu … lagi suka sama
cewek?” Tania bertanya hati-hati.
“Lha, kan dari dulu emang
suka cewek.”
“Maksudnya … spesifiknya
saat ini kamu lagi suka sama satu cewek gitu, ga?”
Ardan berpikir sejenak
mendengar pertanyaan Tania. “Apa sebegitu nampaknya ya lagi suka sama sodaramu?”
Ardan balik bertanya.
JLEB!
Tania terkejut mendengar
jawaban Ardan.
“Sebenarnya udah lama aku
suka sama dia, tapi bingung buat bilang ke dia. Kamu tau ga dia suka apa?” Ardan
balik bertanya pada Tania. “Kamu kan kembarannya, pasti kamu tau apa yang dia
suka. Bantu aku boleh kali, ya? Tar aku traktir apa aja deh. Tas chaxxel atau
apalah juga sabeb.”
“Plisss …”
Ardan memegang tangan Tania
dengan wajah memelas.
Kalau tadi Ardan yang
tersenyum pahit, kini giliran Tania yang harus melakukannya. Ia menarik
tangannya perlahan. “Bisa dengerin aku dulu, ga?” sergah Tania.
“Hah?” Ardan menaikkan
sebelah alisnya.
Tania mengembuskan napas
panjang. “Aku suka sama kamu, udah sejak lama. Bisa jadi sebelum kamu suka sama
Dania, aku lebih dulu suka kamu,” ucapnya cepat, membuat Ardan terkejut.
“Bagiku kamu adalah bumi, dan aku satelitnya, bulan. Kupikir aku satu-satunya bulan yang mengelilingimu, aku lupa kamu adalah bumi yang mengagumi matahari, dan mataharinya ternyata Dania.”
“Ga usah merasa bersalah. Aku
paham kok, udah kondratnya bumi mengelilingi matahari karena ada orbitnya. Sama
kayak bulan, udah jadi tugasnya mengelilingi bumi. Perasaanku ga perlu dibalas,
seenggaknya aku lega udah ngungkapinnya.”
Tania berdiri. Ia menatap
Ardan yang juga sedang menatapnya. “Ngomong-ngomong Dania ga lagi suka sama
siapa-siapa. Dia suka bunga matahari dan merchandise berbentuk bunga matahari. Aku pulang duluan. Good luck, Ardan!”
Hari Sabtu, pukul sepuluh.
Tania pikir malam minggunya akan berbeda kali ini, tapi dia salah. Malam minggu bersama Ardan menjadi malam minggu terburuk daripada malam minggu sebelumnya. Tania sadar ... tidak semua kencan di malam minggu berakhir mulus.
Perasaannya ibarat permukaan bulan, ada banyak kawah siap menanti seseorang untuk jatuh di dalamnya. Dan kini Tania sendiri yang terjerembab di dalamnya.
-the end-
Kalo anak astronomi lagi galau, kira-kira gitu kali ya? Btw, terima kasih sudah membaca postingan kali ini. Highly recommend bacanya sambil dengerin Astronomy.
Revisian soon, hehe.

Masih kerennnš„
BalasHapus