Tidak Apa-Apa
“You’re
most precious person that I’ve ever met.”
…
Kadangkala
tak mengapa
Untuk
tak baik-baik saja
Kita
hanyalah manusia
Wajar
jika tak sempurna
[Fiersa
Besari-Pelukku Untuk Pelikmu]
…
Hai.
Bagaimana
kabarmu hari ini?
Apakah
kamu baik-baik saja?
Bagaimana
dengan study/pekerjaanmu? Apakah lancar?
Aku
tahu … tidak mudah bagimu untuk melewati hari ini, tapi aku bangga padamu
karena kamu bisa melewati hari yang tidak baik-baik saja ini dengan baik. Ada banyak
orang hebat di dunia ini, dan kamu salah satunya.
Kamu
tanya mengapa?
Aku
mengagumi keberanianmu yang bisa menghadapi hari ini.
Tentu
saja, itu bukan hal yang biasa. Tidak semua orang bisa melewati hari ini. Tidak
sedikit dari mereka memilih untuk mengakhiri hidup alih-alih melewatinya dengan
berani sepertimu.
Tidak,
aku tidak bermaksud untuk menyalahkan perbuatan mereka.
Mereka
mungkin berada pada situasi yang mana tidak ada orang di sisi mereka untuk
mendengarkan keluh kesah mereka, atau di situasi terjepit dan kehilangan arah. Meski
perbuatannya tidak dibenarkan, bukankah tetap saja mereka adalah petarung yang hebat
bisa bertahan selama ini?
Hanya
saja … aku merasa sedih setiap kali mendengar berita tersebut.
Makanya
aku merasa bangga mendengar kamu masih tetap di sini, melewati hari yang buruk
dengan baik. Kalau kata google,
“It’s
just a bad day, not a bad life.”
Seburuk
apapun hari ini untukmu, percayalah … ini cuma hari yang buruk, bukan kehidupan
yang buruk.
Ya
… aku tidak bermaksud untuk mengguruimu, berbagi fakta yang diberikan oleh google
dan teman-teman, berharap perasaanmu membaik saat ini.
Kalau
kamu merasa tidak baik hari ini, gapapa.
Kamu
ga harus baik-baik saja setiap harinya.
Seperti
awan … ga selalu putih, kan? Kadang abu-abu, tapi mereka tidak pernah
menyembunyikannya. Kalau pada akhirnya hujan, mereka tentu akan merasa lega
setelahnya. Selalu ada awan putih seusai hujan.
Seperti
kita. Kalau menangis saat sedih, bukankah memberi kelegaan?
Itu
tandanya kamu sudah mengeluarkan emosi berlebih dari dalam diri kamu.
Kok
emosi berlebih?
Kan
awan baru akan menurunkan hujan kalau butiran air yang mereka tampung tak dapat
lagi terbendung. Sama kayak perasaan, kalau sudah diekspresikan artinya sudah
tak lagi mampu ditahan.
Entah
itu dalam wujud bahagia sampai senyum-senyum sendiri, wujud kecewa berupa marah
atau malah menangis karena sedih.
Semua
itu adalah hal yang normal untuk kamu—kita—alami.
Tidak
ada yang salah dengan mengekspresikan perasaan, walau kadang ada yang berkata,
“Dih
… baper banget.”
Ya
namanya juga manusia. Jiwanya terdiri dari susunan perasaan. Kalau doi masih
menganggap kamu baper, ajak nonton Inside Out aja. Biar doi makin mengenal berbagai
jenis emosi yang ada dalam diri manusia.
Batu
kali ga ada perasaan.
Oh
iya, tadi sampai mana kita cerita?
Ah,
perasaan.
Ga
ada yang salah dari mengekspresikan perasaan. Lagipula ga ada prasyarat bagi
seseorang untuk bisa menunjukkan perasaannya. Free kalau bahasa daerahku,
artinya bebas.
Jadi
… kamu ga perlu merasa khawatir untuk berekspresi.
Kalau
sekarang perasaanmu gimana?
Masih
ga baik-baik aja?
Gapapa,
it’s normal kok. Tapi apakah kamu bisa mengatasi ini sendiri?
Jika
memang terasa berat untukmu, jangan sungkan untuk berbagi. Kamu bisa memilih siapapun
untuk bertukar pikiran.
Cari
orang yang mau mendengar ceritamu tanpa menghakimi. Meski tidak menemukan jalan
keluar, terkadang berbagi cerita membuat diri merasa lega. Kalau sudah merasa
lega, akan lebih mudah untuk berpikir secara jernih.
Hmm
… kamu sulit untuk menemukannya?
Gapapa.
Emang
ga gampang untuk menemukan seseorang yang enak untuk kamu ajak bicara. Mau tidak
mau kamu harus menemukan cara untuk berdamai dengan dirimu sendiri.
Ngomong-ngomong
tentang ini, apa aku boleh bercerita sedikit?
Bukan
cerita yang luar biasa hebat, tapi kuharap ini bisa membantumu.
Akhir-akhir
ini aku mulai suka mendengar lagu, padahal sebelumnya hanya pada moment
tertentu aku akan mendengarkan lagu. Tapi kali ini … aku benar-benar menikmati
lagu-lagu melankolia, terutama milik Gangga.
Awalnya
Blue Jeans, tapi aku lebih jatuh hati pada Journey on September.
Usut
punya usut, ternyata berekspresi lewat lagu adalah cara Gangga untuk berdamai
dengan dirinya (cmiiw yaa). Pantas saja lagu-lagunya terasa gamblang menyuarakan
perasaan.
And
I was lost, was feelin’ nothin’
I’m
trying to get up again
I
wanna be myself … again
‘Cause
I know I’m someone who will … find his way again …
Percaya
ga percaya, kamu itu satu-satunya orang yang bisa menemukan cara untuk kembali
ke dirimu sendiri.
Sulit?
Harus
aku akui memang sulit. Lebih sulit dari kalkulus yang tidak begitu aku suka,
atau pembuktian matematika yang harus membuatku mengarang ria.
Tapi
aku percaya … kamu pasti bisa menemukannya, kan?
Maaf
kalau kata-kataku terdengar seperti toxic positivity. Seperti Pelukku Untuk
Pelikmu,
Saat
kau merasa gundah
Lihatlah
hatimu, percayalah …
Dan
kamu akan menemukannya.
Apa?
Kamu masih belum menemukannya?
Gapapa.
Pelan-pelan
saja.
Nah,
lho. Itu kata Mbak Tantri-Kotak.
Hati
… bila dipaksakan pasti takkan baik.
Makanya
pelan-pelan aja. Pelan-pelan asal kelakon, ya kan?
Tenang.
Ga
ada proses yang terlalu lambat, karena kita punya track jalannya
masing-masing. Ga berjalan cepat kan bukan berarti gagal.
Balik
lagi, gapapa.
Aku
tahu kamu hebat dan lagi berproses untuk menjadi semakin hebat. Seperti ulat
yang bermetamorfosis untuk menjadi kupu-kupu indah, kita sedang berada di fase
itu.
Kalau
kamu lelah, gapapa untuk berhenti sejenak dan beristirahat.
Selama
kamu merasa itu bukan tujuanmu atau arah yang salah, gapapa untuk putar balik
dan mencari jalan yang benar. Google maps aja bisa salah dan bikin kita putar
balik, kan? Apalagi hidup yang arahnya kita cari sendiri.
Jadi
… kalau kamu butuh seseorang untuk mengatakan gapapa padamu, here I am. Baca ini
hingga selesai.
“Gapapa.”
Selamat
berproses <3
…
Tbh,
special thanks to all of my precious friends that I’ve ever known in my life.
Orang-orang
yang selalu ada by my side at my worst.
Orang-orang
yang ga bisa aku sebut satu per satu, tapi selalu menyediakan telinga untuk
mendengar tanpa menghakimi.
Orang-orang
yang menjadi tempat aku belajar lebih banyak tentang hidup, belajar untuk jauh
lebih bersemangat menghadapi hidup (meski tetap saja … overthinking dan mood-rollercoaster
selalu menjadi masalah pribadiku).
Dan
… orang-orang yang sabar menghadapi masalah pribadiku di atas.
Aku
bersyukur bertemu kalian.
Meski
bukan kompas, kalian seperti buku yang satu per satu aku baca dan aku pelajari.
Ada banyak pelajaran berharga aku dapatkan dari kalian. Entah itu love-life, reminder,
dan lain sebagainya.
Terima
kasih sudah menjadi bagian dari tulisan ini.
…
terima kasih sudah berkata,
“Gapapa.”
—kala
aku gundah gulana dan tak menemukan jalan untuk keluar.
Kalimat
itu,
“Gapapa.”
Dan
seulas senyum menenangkan dari kalian, selalu menjadi energi terbaik dalam
hidupku.
…
[Note:
Terima
kasih telah membaca tulisan ini. Tidak ada maksud khusus saat aku mulai
menulis, namun aku merasa aku menemukan cara untuk berdamai dengan diri sendiri
melalui media ini.
Aku
merasa enjoy saat menulis, rasanya seperti aku jadi lebih jujur pada diri
sendiri. Perasaanku jadi lebih tenang karena aku sudah bisa membuka diri—setidaknya
untuk diriku sendiri.
Ternyata
begini rasanya … berdamai dengan diri sendiri.]
Warm Regards,
Ven.

Komentar
Posting Komentar