Tidak Apa-Apa

 



“You’re most precious person that I’ve ever met.”
 

Kadangkala tak mengapa

Untuk tak baik-baik saja

Kita hanyalah manusia

Wajar jika tak sempurna

 

[Fiersa Besari-Pelukku Untuk Pelikmu]

Hai.

Bagaimana kabarmu hari ini?

Apakah kamu baik-baik saja?

Bagaimana dengan study/pekerjaanmu? Apakah lancar?

Aku tahu … tidak mudah bagimu untuk melewati hari ini, tapi aku bangga padamu karena kamu bisa melewati hari yang tidak baik-baik saja ini dengan baik. Ada banyak orang hebat di dunia ini, dan kamu salah satunya.

Kamu tanya mengapa?

Aku mengagumi keberanianmu yang bisa menghadapi hari ini.

Tentu saja, itu bukan hal yang biasa. Tidak semua orang bisa melewati hari ini. Tidak sedikit dari mereka memilih untuk mengakhiri hidup alih-alih melewatinya dengan berani sepertimu.

Tidak, aku tidak bermaksud untuk menyalahkan perbuatan mereka.

Mereka mungkin berada pada situasi yang mana tidak ada orang di sisi mereka untuk mendengarkan keluh kesah mereka, atau di situasi terjepit dan kehilangan arah. Meski perbuatannya tidak dibenarkan, bukankah tetap saja mereka adalah petarung yang hebat bisa bertahan selama ini?

Hanya saja … aku merasa sedih setiap kali mendengar berita tersebut.

Makanya aku merasa bangga mendengar kamu masih tetap di sini, melewati hari yang buruk dengan baik. Kalau kata google,

“It’s just a bad day, not a bad life.”

Seburuk apapun hari ini untukmu, percayalah … ini cuma hari yang buruk, bukan kehidupan yang buruk.

Ya … aku tidak bermaksud untuk mengguruimu, berbagi fakta yang diberikan oleh google dan teman-teman, berharap perasaanmu membaik saat ini.

Kalau kamu merasa tidak baik hari ini, gapapa.

Kamu ga harus baik-baik saja setiap harinya.

Seperti awan … ga selalu putih, kan? Kadang abu-abu, tapi mereka tidak pernah menyembunyikannya. Kalau pada akhirnya hujan, mereka tentu akan merasa lega setelahnya. Selalu ada awan putih seusai hujan.

Seperti kita. Kalau menangis saat sedih, bukankah memberi kelegaan?

Itu tandanya kamu sudah mengeluarkan emosi berlebih dari dalam diri kamu.

Kok emosi berlebih?

Kan awan baru akan menurunkan hujan kalau butiran air yang mereka tampung tak dapat lagi terbendung. Sama kayak perasaan, kalau sudah diekspresikan artinya sudah tak lagi mampu ditahan.

Entah itu dalam wujud bahagia sampai senyum-senyum sendiri, wujud kecewa berupa marah atau malah menangis karena sedih.

Semua itu adalah hal yang normal untuk kamu—kita—alami.

Tidak ada yang salah dengan mengekspresikan perasaan, walau kadang ada yang berkata,

“Dih … baper banget.”

Ya namanya juga manusia. Jiwanya terdiri dari susunan perasaan. Kalau doi masih menganggap kamu baper, ajak nonton Inside Out aja. Biar doi makin mengenal berbagai jenis emosi yang ada dalam diri manusia.

Batu kali ga ada perasaan.

Oh iya, tadi sampai mana kita cerita?

Ah, perasaan.

Ga ada yang salah dari mengekspresikan perasaan. Lagipula ga ada prasyarat bagi seseorang untuk bisa menunjukkan perasaannya. Free kalau bahasa daerahku, artinya bebas.

Jadi … kamu ga perlu merasa khawatir untuk berekspresi.

Kalau sekarang perasaanmu gimana?

Masih ga baik-baik aja?

Gapapa, it’s normal kok. Tapi apakah kamu bisa mengatasi ini sendiri?

Jika memang terasa berat untukmu, jangan sungkan untuk berbagi. Kamu bisa memilih siapapun untuk bertukar pikiran.

Cari orang yang mau mendengar ceritamu tanpa menghakimi. Meski tidak menemukan jalan keluar, terkadang berbagi cerita membuat diri merasa lega. Kalau sudah merasa lega, akan lebih mudah untuk berpikir secara jernih.

Hmm … kamu sulit untuk menemukannya?

Gapapa.

Emang ga gampang untuk menemukan seseorang yang enak untuk kamu ajak bicara. Mau tidak mau kamu harus menemukan cara untuk berdamai dengan dirimu sendiri.

Ngomong-ngomong tentang ini, apa aku boleh bercerita sedikit?

Bukan cerita yang luar biasa hebat, tapi kuharap ini bisa membantumu.

Akhir-akhir ini aku mulai suka mendengar lagu, padahal sebelumnya hanya pada moment tertentu aku akan mendengarkan lagu. Tapi kali ini … aku benar-benar menikmati lagu-lagu melankolia, terutama milik Gangga.

Awalnya Blue Jeans, tapi aku lebih jatuh hati pada Journey on September.

Usut punya usut, ternyata berekspresi lewat lagu adalah cara Gangga untuk berdamai dengan dirinya (cmiiw yaa). Pantas saja lagu-lagunya terasa gamblang menyuarakan perasaan.

 

And I was lost, was feelin’ nothin’

I’m trying to get up again

I wanna be myself … again

 

‘Cause I know I’m someone who will … find his way again …

 

Percaya ga percaya, kamu itu satu-satunya orang yang bisa menemukan cara untuk kembali ke dirimu sendiri.

Sulit?

Harus aku akui memang sulit. Lebih sulit dari kalkulus yang tidak begitu aku suka, atau pembuktian matematika yang harus membuatku mengarang ria.

Tapi aku percaya … kamu pasti bisa menemukannya, kan?

Maaf kalau kata-kataku terdengar seperti toxic positivity. Seperti Pelukku Untuk Pelikmu,

 

Saat kau merasa gundah

Lihatlah hatimu, percayalah …

 

Dan kamu akan menemukannya.

Apa? Kamu masih belum menemukannya?

Gapapa.

 

Pelan-pelan saja.

 

Nah, lho. Itu kata Mbak Tantri-Kotak.

 

Hati … bila dipaksakan pasti takkan baik.

 

Makanya pelan-pelan aja. Pelan-pelan asal kelakon, ya kan?

Tenang.

Ga ada proses yang terlalu lambat, karena kita punya track jalannya masing-masing. Ga berjalan cepat kan bukan berarti gagal.

Balik lagi, gapapa.

Aku tahu kamu hebat dan lagi berproses untuk menjadi semakin hebat. Seperti ulat yang bermetamorfosis untuk menjadi kupu-kupu indah, kita sedang berada di fase itu.

Kalau kamu lelah, gapapa untuk berhenti sejenak dan beristirahat.

Selama kamu merasa itu bukan tujuanmu atau arah yang salah, gapapa untuk putar balik dan mencari jalan yang benar. Google maps aja bisa salah dan bikin kita putar balik, kan? Apalagi hidup yang arahnya kita cari sendiri.

Jadi … kalau kamu butuh seseorang untuk mengatakan gapapa padamu, here I am. Baca ini hingga selesai.

“Gapapa.”

Selamat berproses <3

Tbh, special thanks to all of my precious friends that I’ve ever known in my life.

Orang-orang yang selalu ada by my side at my worst.

Orang-orang yang ga bisa aku sebut satu per satu, tapi selalu menyediakan telinga untuk mendengar tanpa menghakimi.

Orang-orang yang menjadi tempat aku belajar lebih banyak tentang hidup, belajar untuk jauh lebih bersemangat menghadapi hidup (meski tetap saja … overthinking dan mood-rollercoaster selalu menjadi masalah pribadiku).

Dan … orang-orang yang sabar menghadapi masalah pribadiku di atas.

Aku bersyukur bertemu kalian.

Meski bukan kompas, kalian seperti buku yang satu per satu aku baca dan aku pelajari. Ada banyak pelajaran berharga aku dapatkan dari kalian. Entah itu love-life, reminder, dan lain sebagainya.

Terima kasih sudah menjadi bagian dari tulisan ini.

… terima kasih sudah berkata,

“Gapapa.”

—kala aku gundah gulana dan tak menemukan jalan untuk keluar.

Kalimat itu,

“Gapapa.”

Dan seulas senyum menenangkan dari kalian, selalu menjadi energi terbaik dalam hidupku.

[Note:

Terima kasih telah membaca tulisan ini. Tidak ada maksud khusus saat aku mulai menulis, namun aku merasa aku menemukan cara untuk berdamai dengan diri sendiri melalui media ini.

Aku merasa enjoy saat menulis, rasanya seperti aku jadi lebih jujur pada diri sendiri. Perasaanku jadi lebih tenang karena aku sudah bisa membuka diri—setidaknya untuk diriku sendiri.

Ternyata begini rasanya … berdamai dengan diri sendiri.]



Warm Regards,


Ven.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Meresahkan: Jomblo Kepala Dua

Break

DUGONG