What About Us?
“Matematika statistika sederhana bisa merepresentasikan proyeksi
kebahagiaan dalam hubungan. Ga percaya?”
…
“Tiga tahun empat bulan, tepatnya.” Andik membenarkan
ucapan Genta perihal lama periode ia menjalin hubungan dengan kekasihnya.
“Ah, ya. Kalau nyicil motor udah surplus, tuh!” Genta
menyahut.
“Ya gapapa, daripada elu tiap bulan ganti-ganti aja
udah ngalahin katalog Indxxaret aja.” Andik mencoba membela diri.
“Terus, bakal lanjut serius?” Genta bertanya.
Andik terdiam.
“Tuh, ga bisa jawab dia. Udah dibilang ga ada harapan,
masih aja lanjut.” Genta terus mengejek.
“Dua Tuhan padahal, yak. Tapi masih aja dipersulit,”
timpal Seta.
Lagi, Andik tak menjawab. Ia meresapi kalimat yang
dikeluarkan oleh Genta dan Seta secara bersamaan, turut memikirkan hubungan
yang tak tahu arahnya.
Dua puluh delapan, bukan usia muda untuk bermain-main perihal
hubungan meski Google berkata tak ada salahnya menikah di usia yang lebih
matang. Tetap saja, jadi beban pikiran.
“Mending diobrolin, Dik. Daripada ga ada kepastian
gitu,” saran Seta. Setidaknya lebih baik daripada mendengar ejekan Genta.
“Belum siap.” Andik menggeleng. “Kalau udahan, rasanya
ngga rela.”
“Daripada menggantung tanpa arah, dikira kuyang apa.”
Kembali, Genta melempar ejekan pedas.
…
“Jadi, mau berapa lama lagi?”
Perempuan berambut ikal yang tengah menyeruput jus di
tangan terbatuk. “Apaan sih, Ma?” elaknya.
“Mau berapa lama lagi kalian pacaran? Usia kamu udah
cukup untuk menikah, sepupu-sepupu kamu juga udah pada nikah. Kamu kapan?”
Rasanya Jeje ingin menghilang saat ini juga.
“Mama bukannya mau membebani kamu lho, Je. Tapi kamu
juga harus ingat usia. Tahun ini udah dua puluh tujuh, udah mesti serius dalam
hubungan. Siapa yang kira-kira bakalan pindah? Kamu … atau Andik?”
Jeje menggeleng. “Masih belum Jeje bicarain, Ma.” Jeje
membalas lemah.
“Kalau gitu ya dibicarain, Je. Jangan ditunda mulu.”
Mama menasihati. “Ingat pantun ini, ikan sepat ikan gabus. Lebih cepat lebih
bagus.”
“Iya, Ma.”
…
“Ada yang mau aku omongin.” Jeje dan Andik berkata
bersamaan.
“Emm … kamu dulu deh.” Andik mengalah.
“Ngga, kamu aja.” Jeje menggeleng, membiarkan Andik lebih
dulu berbicara. Setelah dua hari lamanya masing-masing berada dalam pergumulan,
keduanya akhirnya bertemu.
“Kamu aja dulu.” Andik seolah masih belum siap untuk berbicara.
Kepalanya terisi dengan rumus probabilitas akan reaksi Jeje kalau-kalau ia
mengungkapkan kegundahan yang dipikirkannya.
Di saat bersamaan, Jeje juga memikirkan hal yang sama.
“Hubungan kita mau dibawa ke mana?” Meragu, Jeje
akhirnya bicara. “Maksudku … mau sampai kapan kita pacaran padahal usia kita
sama-sama cukup untuk menikah.”
“Itu yang juga aku pikirkan, Je.” Andik mengakui. Ia menarik
gelas di hadapan, lalu menyesapnya perlahan. Rasa khawatir seolah bercampur
dengan pahitnya kopi.
“Jadi?” Jeje menarik sebelah alisnya. “Kamu mau ikut
agamaku?”
Andik terdiam sejenak. Matanya berubah menjadi sayu. “Ngga
bisa, Je. Kamu juga … ga mungkin ikut agamaku, kan?” tanya Andik.
“Tentu. Kamu tahu betapa religiusnya Papa dan Mamaku. Apa
kata orang kalau tiba-tiba anaknya pindah kepercayaan? Mukjizat Tuhan, atau … buta
karena cinta?” Jeje melayangkan sarkasnya.
“Aku ga bisa mengakhiri hubungan ini. Aku sayang sama kamu,
Je.”
Jeje tahu.
Meski keduanya terkadang mengalami perselisihan kecil,
namun keduanya saling menyayangi. Hubungan yang awalnya dilandasi ‘iseng’ lambat-laun
menjadi serius. Sampai di ujung sini, keduanya menghadapi jalan buntu.
“Apa ga memungkinkan buat kita menjalani iman kita
sendiri-sendiri dalam pernikahan?” Andik menawarkan. Opsi yang sebenarnya ia
sendiri tidak terlalu yakin, namun tetap ingin dicoba.
“Hahah …” Jeje tertawa. “Memangnya berapa persentase
keberhasilannya?”
“Emm … lima puluh?” Andik menebak.
“Kamu salah.” Jeje menyangkal. “Tepatnya dua puluh
lima persen. Tujuh puluh lima persennya diisi oleh kegagalan.”
Andik terdiam. Dahinya mengkerut, menyiratkan bahwa ia
sedang bingung saat ini. Ia tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Jeje.
“Kenapa dua puluh lima?”
“Ini tuh kayak kamu ngetos dua koin. Dalam Matematika,
probabilitasnya terbagi jadi empat. Entah itu angka dan angka, angka dan
gambar, gambar dan angka, atau gambar dan gambar.”
“Terus?”
“Anggaplah kalau angka artinya kamu bahagia dan gambar
artinya kamu ga bahagia. Probabilitas keduanya bahagia cuma seperempat, artinya
hanya dua puluh lima persen. Sementara yang lainnya, salah satu ga bahagia atau
keduanya pada akhirnya ga bahagia.”
“Tapi yang lain ada yang tetap bahagia, kan?”
“Enggak.” Jeje menggeleng. “Kalau satunya udah ga bahagia,
gimana satunya bisa tetap bahagia?”
“Mereka bisa omongin lagi baik-baik, kan?”
“Dik, kalaupun es kopi kamu batunya tetep dingin tapi kopinya
ga enak, kamu bakal tetap bilang es kopimu enak, ngga?”
Andik terdiam.
“Jadi udah jelas, ya. Kita ga bisa lanjut. Maaf, Dik. Ini
sakit buatku juga, tapi lebih sakit ketika kamu membayangkan anak-anak di masa
depan harus memiliki keluarga broken atau krisis identitas karena kesalahan
orang tuanya.”
“Kamu egois, Je,” tandas Andik. “Kamu ga cinta kan
sebenarnya?”
“Aku cinta, tapi kalau disuruh memilih antara Tuhan
atau kamu, maaf … aku ga bisa.”
Tiga tahun, empat bulan dan delapan belas hari.
Tidak sampai tiga puluh menit, hubungan keduanya
berakhir sia-sia.
-will continue soon-

Komentar
Posting Komentar