Postingan

Catatan Meresahkan: Jomblo Kepala Dua

Gambar
CATATAN MERESAHKAN JOMBLO KEPALA DUA  STATUS   20. Sudah tak ada lagi akhiran –teen saat perkenalan usia dalam bahasa Inggris. Entah itu thirteen, fourteen, fifteen , …, hingga nineteen . Time flies so fast. Rasanya baru kemarin menikmati ayam gulai bercampur kentang, mie ala Bangka kebanggaan Mama, dan tak lupa telur rebus yang kalau sempat telurnya direbus merah untuk merayakan ulang tahun ke-11 diiringi pertanyaan, “Mau beli hape yang mana?” Inget banget kali pertama punya hape yang bisa dipake buat internetan, lengkap dengan stik ala PS versi lite dari m*to. Hape yang bikin aku kenalan sama ‘insomnia’ hanya untuk membaca cerita horror di malam Minggu kelabu. Maklumlah, dulu ga kenal sama yang namanya Malam Minggu Miko, jadi tiap malam Minggu rasanya kayak uji nyali malam Jumat buat baca cerita horror di facebook. Sampe pernah ada inisiatif buat ngehapal ayat kursi, kali-kali ketemu setan bisa coba praktek bacain. Kalau sekarang … Udah memasuki fase di ma...

Perihal: Rasa dan Asa

Gambar
  “Tuhan ciptakan rasa untuk apa?” tanyaku sedikit melirik ke arahnya, berharap dia menyadari maksud pertanyaanku. “Tentu agar dunia ini tidak hampa. Kalau tak ada rasa, dunia akan hampa. Bukankah ini sangat mirip dengan pekerjaan kita di dapur? Kita seperti Tuhan, meracik rasa untuk makanan. Dengan begitu orang yang menerima makanan akan merasa bahagia dengan rasanya.” Ia menjelaskan, lengkap dengan analogi yang masuk akal. Aku kehabisan kata, sibuk memutar otak guna menemukan kalimat yang tepat agar maksudku tersampaikan. “Kalau begitu … kenapa Tuhan putuskan asa?” “Apakah rasa yang menurut kita sudah pas sama seperti yang dirasakan oleh customer kita?” Ia malah melontarkan pertanyaan kembali kepadaku. “Mungkin bagi kita sudah tepat, namun bisa jadi bagi mereka terlalu pekat atau hambar. Begitulah rancangan Tuhan yang kita rasakan. Tergantung bagaimana kamu menikmatinya.” “Oh, begitu.” Aku pasrah. “Pantas saja kamu ga pernah mengerti perasaanku.”   -end-

Pertemuan Pertama

Gambar
Tanah masih belum kering, sama halnya dengan air mata yang terus membasahi pipiku. “Ini amplop dari Adlyn, buat kamu.” Gita menyodorkannya kepadaku. “Terima kasih, Kak.” Aku masih duduk di ruang tamu rumah Adlyn, membuka perlahan surat amplop terakhir dari Adlyn bersama Gita yang kini menemaniku. Kertas berwarna putih polos keluar dari dalam amplop, kubuka perlahan. Tulisan tangan Adlyn tercetak di sana, aku mulai membacanya perlahan. Teruntuk Tasya, yang katanya teman hidup Adlyn. Terima kasih. Terima kasih sudah menjadi teman cerita, teman bahagia, teman gabut, dan teman yang membuat Adlyn semakin kuat. Masih ingat pertemuan pertama kita? Kamu pasti lupa. “Bohong, jelas-jelas aku ingat pertemuan pertama kita di McD, waktu itu aku ga sengaja nabrak kamu,” jawabku di sela-sela isakku. Bukan, bukan di McD. Tapi di TK. Ternyata dulu kita satu TK. -fin- Masih sama dengan karakter drabble di alasan , kayaknya aku bakal nulis beberapa drabble dengan karakter Tasy...

Alasan

Gambar
“Aku sibuk,” jawabnya menolak ajakanku. Bukan kali pertama, karena ini keempat kalinya dia menolak untuk bertemu denganku. Aku mendesah pasrah. “Aku tahu kamu sibuk, tapi bisa ga sih aku sedikit jadi prioritas kamu? Kalau kayak gini mending kita udahan aja, aku capek!” keluhku berapi-api. “Oke, kalau itu memang mau kamu.” Tut. Tut. Tut. Sambungan terputus. Malam itu aku marah dan menangis sejadi-jadinya. … Satu minggu berlalu, masih tidak ada kabar darinya dan aku sibuk bergumul dengan diriku sendiri untuk tidak menghubunginya lebih dulu. “Jangan lemah, Tas. Jangan lemah! Dia yang salah, dia yang harusnya nyari aku duluan!” Aku berusaha menguatkan diri. Tak lama berselang, ponselku berbunyi. Sederet nomornya yang sudah aku hapus namun kuhapal jelas menghubungiku. Satu kali, aku abaikan. Dua kali, masih kuabaikan. Syukurin, biar dia tahu rasa. Tiga kali … “Ada apa, sih?! Bukannya kita udah putus?!” ketusku saat mengangkat telponnya. “Tasya, kan? Tas, Adly...

Jarak

Gambar
  Jarak Ketika Lara Menjadi Nyata   Aku selalu membencinya, bahkan sejak dulu. Tepatnya, saat dia memutuskan untuk melanjutkan study di luar pulau. “Vi, jarak itu cuma angka. Yang penting itu perasaan. Lagian kalau ketemu terus juga lama-lama bosen. Kalau ldr ‘kan kamu bisa fokus sama study kamu, dan aku fokus dengan study aku,” ucapnya sambil mengusap pelan rambutku. Baginya, jarak tak masalah. Sayangnya, tidak menurutku. Aku dan keluhanku menjadi satu. “Bagaimana kalau tiba-tiba pas kamu pulang … pesawatnya jatuh?” tanyaku khawatir. “Kamu ga usah mikir aneh-aneh dong,” balasnya. “Aku nanya nih.” Dia tak menjawab, hanya tersenyum. Kemarin dia mengabariku, akan segera pulang hari ini. Malang, kekhawatiranku berubah menjadi nyata. Jarak antara aku dan dia kini semakin jauh.   -the end-   Drabble; a ficlet of 100 words or less.  

23:09

Gambar
Malam, teruntuk kamu di ujung sana Lama tak bersua, apa kabarnya? Lama tak menyapa, bagaimana rupanya? Lama sudah, lupakah ‘kau pada saya? Malam, teruntuk kamu yang telah pudar Pudar dalam memori lampau masa kanak; Tak mampu dengan jelas mengingat wajahmu Tapi nyaris mati oleh rindu   Malam, untuk kamu yang tak lagi bersuara Maaf sudah mengusik ketenangan Anda Sepertinya rasaku selalu menyusahkan Tenang-tenanglah di alam  sana Bengkayang, 17 April 2019 Vn

How Can We Judge Someone, When They Also Have a Human Right Similar Like Us?

“How can we judge someone, when they also have a human right similar like us?” Okay, guys. Untuk mengawali tulisan-tulisan selanjutnya—yang mungkin akan mengisi laman blog milikku, aku ingin bercerita tentang fenomena yang kerap kali terjadi dalam media sosial—atau mungkin... media massa? Jadi gini, aku sering banget main facebook , tau kan? Ituloh... salah satu situs jejaring sosial terbesar di dunia yang dibuat oleh Mark Zuckenberg. Saking seringnya main salah satu akun media sosial ini, lamat-lamat aku suka banget mengamati fenomena yang terjadi dalam dunia sosial. Dari kidz zaman now yang aku sendiri ga tau siapa sih kidzzamannow ini? Bcz , anak kuliahan bilangnya anak SMA itu kidzzamannow. Lah anak SMA juga bilang gitu ke anak SMP. Daaan... anak SMP bilang gitu juga ke anak SD. So guys, tell me who is kidz zaman now, and how can you know if they’re kidzzamannow. Tapi... bukan fenomena ini yang pengen aku bagiin kepada teman-teman sekalian. Ada lagi fenomena yang ...